
Pola Perilaku yang Menunjukkan Seseorang Tertarik, Tapi Merasa Tidak Layak
Dalam dunia kencan, semuanya akan jauh lebih sederhana jika setiap orang berani mengungkapkan perasaannya secara langsung. Namun kenyataannya, kebanyakan manusia justru menahan diri, terutama ketika mereka menyukai seseorang yang dianggap lebih baik, lebih menarik, atau “di luar jangkauan”. Ketakutan itu menciptakan perilaku yang tampak membingungkan, dan sering kali bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Menurut Isabella Chase dari The Vessel, ketika seseorang memendam rasa tetapi merasa tidak cukup layak, terjadi jurang antara emosi dan tindakan. Mereka bukan sedang bermain tarik-ulur atau mencoba memanipulasi. Mereka sedang terjebak dalam konflik antara ketertarikan dan ketakutan ditolak. Pola-pola ini mudah terbaca jika Anda tahu tanda-tandanya.
Berikut tujuh indikator paling umum bahwa seseorang sebenarnya tertarik pada Anda, tetapi meyakini bahwa Anda berada pada level yang tidak mungkin mereka capai:
1. Pola “panas-dingin” mereka mengikuti ritme yang konsisten
Ini bukan permainan tarik-ulur yang biasa dikaitkan dengan orang yang plin-plan. Ketika seseorang merasa Anda terlalu “tinggi” untuk mereka raih, perubahan perilaku mereka mengikuti pola yang sangat khas. Mereka tampak hangat, ramah, dan responsif ketika Anda lebih dulu menunjukkan minat. Namun setelah itu, mereka tiba-tiba menjauh, seolah sadar diri bahwa mereka “tidak pantas” menyita waktu Anda terlalu lama. Anda akan melihat:
- Mereka membalas pesan dengan antusias ketika Anda memulai percakapan.
- Mereka ikut terlibat, memberi ide, bahkan menyarankan rencana.
- Beberapa hari kemudian, mereka hilang tanpa kabar, sampai Anda menghubungi lagi.
Isabella Chase menyebut ini sebagai “tarikan batin yang kontradiktif”—bagian diri orang itu ingin dekat, tapi bagian lain merasa harus mundur sebelum mereka ditolak. Ketakutan inilah yang membuat mereka menciptakan jarak sebagai cara melindungi hati sendiri.
2. Mereka meremehkan diri sendiri setiap kali Anda memuji mereka
Perhatikan cara mereka berbicara tentang diri sendiri. Seseorang yang memandang Anda berada di “level lebih tinggi” akan mengecilkan kualitas atau pencapaian mereka sendiri. Misalnya:
- Anda memuji pekerjaannya → mereka langsung menepis dan bilang itu kebetulan.
- Anda menyoroti kelebihan mereka → mereka justru menyebut kekurangan.
- Anda memberi apresiasi → mereka menjadikannya lelucon, seolah tidak layak menerimanya.
Tujuannya bukan untuk terlihat rendah hati. Mereka melakukan ini untuk menurunkan ekspektasi Anda. Dalam pikiran mereka, jika sejak awal mereka mengaku “tidak sehebat itu”, Anda tidak akan kecewa di kemudian hari. Sayangnya, strategi ini justru membuat mereka tampak kurang percaya diri, dan bisa menciptakan jarak emosional yang tidak perlu.
3. Bahasa tubuh mereka campur aduk dan saling bertentangan
Ketika ketertarikan bertemu rasa tidak mampu, tubuh seseorang sering kali membocorkan dilema batinnya. Anda bisa melihat dua “cerita” sekaligus:
- Tanda tertarik:
- Mereka mencondongkan tubuh ke arah Anda
- Kontak mata intens
- Mengikuti atau meniru gerakan Anda
-
Senyum yang mudah muncul
-
Tanda takut mendekat:
- Tiba-tiba bersandar menjauh
- Menyilangkan tangan atau kaki untuk menciptakan jarak
- Menoleh ke arah lain saat berbicara
- Nyaris menyentuh Anda, lalu buru-buru menarik diri
Campuran sinyal ini bukan tanda manipulasi. Menurut Isabella Chase, tubuh mereka sedang “terpecah antara keinginan untuk mendekat dan naluri untuk melindungi diri dari kemungkinan penolakan”.
4. Mereka menganggap hal-hal biasa yang Anda lakukan sebagai sesuatu yang luar biasa
Seseorang yang merasa Anda berada “di atas kehidupannya” akan bereaksi berlebihan terhadap aktivitas Anda yang sebenarnya normal. Contohnya:
- Anda bilang sedang membaca buku → mereka memuji seolah Anda seorang cendekia.
- Anda memasak menu sederhana → mereka menganggap Anda jenius kuliner.
- Anda menyelesaikan masalah kerja kecil → mereka menyebut Anda sangat kompeten.
Kekaguman yang berlebihan menunjukkan bahwa mereka menempatkan Anda di podium terlalu tinggi. Dari sudut pandang mereka, Anda bukan hanya menarik—Anda hampir sempurna. Padahal hubungan yang sehat membutuhkan tempat di mana dua orang bisa saling melihat sebagai manusia, bukan sosok yang diagungkan.
5. Mereka melakukan kompensasi berlebihan untuk menutupi rasa tidak cukup
Ketika seseorang yakin mereka kalah kualitas, mereka mencoba menutupi “kekurangan” itu dengan berusaha ekstra keras di area lain. Biasanya berupa:
- Terlalu banyak memberi atau membantu, meski tidak diminta
- Menjadi komedian dadakan untuk membuat Anda tertawa
- Selalu ingin terlihat berguna atau dibutuhkan
- Merencanakan pertemuan atau kencan yang terlalu mewah di awal hubungan
- Memamerkan satu keahlian yang mereka pikir bisa membuat Anda terkesan
Isabella menjelaskan bahwa kompensasi ini terasa seperti transaksi emosional. Mereka berpikir: “Jika aku bisa memberikan cukup banyak hal, mungkin dia tidak sadar bahwa aku sebenarnya tidak cukup baik.” Masalahnya, tindakan ini sering muncul dari rasa takut, bukan dari ketulusan.
6. Mereka mencari kepastian dengan cara tidak langsung
Mereka ingin tahu apakah Anda juga tertarik, tapi terlalu takut untuk menanyakan secara langsung. Alhasil, mereka mencari jawaban lewat jalan memutar, seperti:
- Bertanya kepada teman yang mengenal Anda tentang apa yang Anda katakan tentang mereka
- Menciptakan situasi yang membuat Anda memilih “apakah tetap bersama mereka atau pergi”
- Menyinggung bahwa ada orang lain yang menyukai mereka untuk melihat reaksi Anda
- Sengaja menghilang sejenak untuk melihat apakah Anda akan mencarinya
Setiap interaksi bagi mereka terasa seperti sebuah ujian: “Masihkah Anda menginginkan mereka?” “Apakah Anda melihat nilai mereka?” “Apakah Anda akan tetap tinggal?” Namun kepastian semacam ini tidak pernah cukup, karena masalahnya ada pada keyakinan mereka terhadap diri sendiri, bukan pada Anda.
7. Mereka selalu terkejut ketika Anda menunjukkan minat berkelanjutan
Tanda paling mendasar bahwa seseorang menganggap Anda “terlalu luar biasa untuk mereka” adalah keterkejutan yang muncul setiap kali Anda menunjukkan perhatian. Anda menghubungi mereka lebih dulu → mereka tampak heran. Anda menepati janji untuk bertemu → mereka seperti tidak percaya. Anda memilih mereka daripada opsi lain → mereka hampir bingung mengapa.
Ini bukan sikap mencari perhatian. Ini adalah ketulusan. Mereka benar-benar merasa tidak layak. Mereka mengira hubungan ini bisa berakhir kapan saja, karena cepat atau lambat Anda akan menyadari bahwa Anda “bisa menemukan yang lebih baik”.
Isabella Chase menyebut respons ini sebagai “keterkejutan emosional”—sebuah refleksi bahwa mereka belum mampu melihat nilai dirinya sendiri.
Mengenali pola ini bukan berarti Anda harus “menyembuhkan” mereka. Seseorang hanya bisa membangun rasa percaya diri dari dalam, bukan dari validasi eksternal, bahkan bukan dari orang yang ia sukai. Namun memahami tanda-tandanya akan membantu Anda melihat situasi dengan lebih jernih. Jika perilaku mereka menghalangi kedekatan yang sehat, komunikasi terbuka menjadi satu-satunya jalan. Tanyakan apa yang membuat mereka ragu, bantu mereka melihat bahwa sebagian besar ketakutan itu hanyalah cerita lama yang mereka ulang terus-menerus. Kadang yang menghambat hubungan bukan kurangnya cinta, tetapi kurangnya keyakinan bahwa mereka layak dicintai.