
Liburan yang Tidak Selalu Membutuhkan Biaya Mahal
Tanggal merah sering kali membawa perasaan yang ambigu. Di satu sisi, ia memberikan kesempatan untuk beristirahat, menjauh dari rutinitas, dan memberi ruang bagi tubuh serta pikiran untuk bernapas. Namun di sisi lain, tanggal merah juga sering datang bersama kekhawatiran. Harga tiket melonjak, biaya penginapan meningkat, ongkos makan dan transportasi terasa semakin memberatkan. Liburan yang seharusnya menjadi waktu pemulihan justru berubah menjadi sumber kecemasan.
Dalam situasi seperti ini, banyak orang mulai mempertanyakan apakah liburan benar-benar layak diambil. Beberapa memutuskan untuk tidak libur, ada yang memaksakan diri dengan konsekuensi keuangan, dan ada pula yang memilih tetap bekerja seperti biasa. Liburan seakan menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati ketika kondisi ekonomi stabil. Padahal, kebutuhan akan jeda tidak pernah menunggu sampai semua hal baik-baik saja.
Saya pun mengalami keraguan yang sama. Di tengah pekerjaan yang padat, tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat. Ada rasa lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan: lelah karena tanggung jawab, karena tuntutan untuk selalu siap, dan karena pikiran yang jarang benar-benar kosong. Namun di saat yang sama, saya sadar bahwa liburan dalam bentuk yang biasanya dianggap ideal—pergi jauh, menginap, dan menghabiskan banyak uang—bukan pilihan yang selalu realistis.
Dari kegamangan itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang saya cari dari liburan?
Jawabannya ternyata cukup sederhana. Yang paling saya butuhkan saat libur bukanlah perjalanan, melainkan berhenti dari pekerjaan. Bukan berhenti hidup, bukan lari dari tanggung jawab, melainkan berhenti dari tekanan untuk terus produktif. Berhenti dari dorongan batin yang memaksa saya untuk selalu sibuk, selalu responsif, dan selalu merasa harus melakukan sesuatu yang "berguna".
Pekerjaan yang Tidak Pernah Berhenti
Dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan sering kali tidak mengenal batas. Ia tidak berhenti saat jam kerja usai. Ia ikut masuk ke ruang keluarga, ke waktu makan, bahkan ke kepala saat tubuh sudah ingin beristirahat. Kita mungkin tidak sedang berada di tempat kerja, tetapi pikiran kita masih bekerja. Kita tampak libur, tetapi tidak benar-benar berhenti.
Bagi saya, liburan dimulai ketika pekerjaan benar-benar saya letakkan. Ketika saya berhenti membuka pesan, berhenti memikirkan target, dan berhenti mengukur hari dari seberapa produktif saya. Ternyata, berhenti bukan perkara mudah. Ada rasa bersalah yang menyelinap, seolah diam adalah bentuk kemalasan. Ada kecemasan, seolah dunia akan berjalan tanpa saya jika saya tidak ikut bergerak.
Namun justru di situlah saya belajar bahwa berhenti adalah bagian dari merawat diri. Tanpa berhenti, kelelahan tidak pernah benar-benar diolah. Ia hanya ditumpuk, sedikit demi sedikit, hingga suatu hari tubuh dan pikiran menagihnya dengan cara yang tidak menyenangkan.
Liburan Sederhana yang Membawa Ketenangan
Setelah berhenti dari pekerjaan, saya tidak merasa perlu menggantinya dengan agenda liburan yang padat. Saya tidak langsung mencari tempat baru atau pengalaman baru. Yang saya lakukan justru sangat sederhana: santai dan ngobrol dengan keluarga.
Bagi sebagian orang, ini mungkin tidak terdengar seperti liburan. Tidak ada foto menarik, tidak ada cerita perjalanan, tidak ada pencapaian yang bisa dibagikan. Namun bagi saya, duduk bersama keluarga tanpa agenda adalah salah satu bentuk liburan paling jujur.
Kami berbincang tentang hal-hal remeh. Tentang hari yang berlalu, tentang kenangan lama, tentang rencana yang belum tentu terwujud. Kadang obrolan mengalir, kadang berhenti di tengah jalan, digantikan oleh diam yang tidak canggung. Tidak ada tuntutan untuk membuat waktu menjadi produktif. Waktu dibiarkan berjalan apa adanya.
Di saat-saat seperti itulah saya merasakan sesuatu yang jarang saya rasakan di hari biasa: kepala saya menjadi lebih lapang. Saya merasa seperti melepas banyak endapan pikiran---sisa-sisa kecemasan, tekanan, dan kegaduhan batin yang selama ini menumpuk. Sensasinya mirip seperti menulis setelah lama menahan beban di kepala: ada kelegaan setelah sesuatu yang kotor dan penuh akhirnya dikeluarkan.
Liburan sebagai Pembersihan Mental
Liburan, dalam pengertian ini, bukan soal hiburan, melainkan soal pembersihan mental. Tentang memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas tanpa harus dibanjiri rangsangan baru. Tentang membiarkan diri menjadi manusia biasa, bukan mesin kerja.
Pengalaman ini membuat saya semakin sadar bahwa banyak liburan terasa mahal bukan semata karena jaraknya atau fasilitasnya, melainkan karena relasi digantikan oleh konsumsi. Ketika kita tidak memiliki ruang untuk pulang, untuk tinggal, untuk sekadar duduk dan berbincang, maka semua harus dibeli. Rumah digantikan penginapan, obrolan digantikan hiburan, kehadiran digantikan tiket.
Sebaliknya, ketika relasi masih hidup---keluarga, teman, lingkungan sekitar---liburan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Ia hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan, perhatian yang diberikan, dan kesediaan untuk memperlambat ritme hidup.
Ini bukan romantisasi kesederhanaan, apalagi penolakan terhadap liburan konvensional. Pergi, melihat tempat baru, dan menikmati pengalaman berbeda tetaplah sah dan menyenangkan. Namun di tengah kondisi ekonomi yang makin menekan, mungkin kita perlu bertanya ulang: apakah kita benar-benar membutuhkan semua itu untuk merasa pulih?
Jeda sebagai Kebutuhan Dasar
Budaya kerja hari ini sering menempatkan jeda sebagai hadiah. Sesuatu yang layak diterima setelah semua kewajiban tuntas, setelah target tercapai, setelah kerja keras dibayar. Akibatnya, ketika kondisi ekonomi mengetat, jeda menjadi hal pertama yang dikorbankan. Kita terus bekerja, terus menunda istirahat, dengan harapan suatu hari nanti bisa libur "dengan layak".
Padahal jeda bukan kemewahan. Ia kebutuhan dasar manusia. Tanpa jeda, kita menumpuk kelelahan yang tidak pernah benar-benar selesai. Tanpa jeda, pikiran menjadi penuh, emosi mudah rapuh, dan relasi perlahan mengering.
Liburan---dalam bentuk apa pun---adalah salah satu cara manusia menjaga kewarasannya. Dan jika biaya liburan naik, mungkin yang perlu kita kurangi bukan jedanya, melainkan ekspektasi kita tentang seperti apa liburan seharusnya terlihat.
Mendefinisikan Ulang Liburan
Bagi saya, mendefinisikan ulang liburan berarti menerima bahwa liburan tidak harus selalu spektakuler. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: berhenti bekerja, duduk bersama keluarga, dan membiarkan kepala dibersihkan dari sisa-sisa pikiran yang menumpuk. Tidak ada biaya besar, tidak ada rencana rumit, tetapi ada pemulihan yang nyata.
Cara ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Setiap orang punya konteks hidup dan kebutuhan yang berbeda. Namun pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: ketika dompet menipis, kita tidak harus kehilangan jeda. Kita hanya perlu keberanian untuk berhenti dan kejujuran untuk mengakui apa yang benar-benar kita butuhkan.
Pada akhirnya, mungkin yang kita cari dari liburan bukanlah tempat baru, melainkan keadaan batin yang lebih lapang. Dan keadaan itu, sering kali, justru ditemukan saat kita berhenti berlari dan kembali ke relasi paling dasar dalam hidup kita.
Mungkin yang kita butuhkan bukan liburan mahal, tapi keberanian untuk berhenti dan membersihkan kepala.