Ustaz Das'ad Latif Tampil Viral Saat Nonton Borneo FC vs PSM di Samarinda Pakai Gamis Juku Eja

Erlita Irmania
0

Kehadiran Ustaz Das’ad Latif di Stadion Segiri, Samarinda

Atmosfer panas menyelimuti Stadion Segiri, Samarinda, saat dua raksasa sepak bola Indonesia, Borneo FC dan PSM Makassar, bertemu di lapangan hijau pada Sabtu sore, 3 Januari 2026. Riuh rendah ribuan suporter "Pesut Etam" dan pendukung "Juku Eja" memenuhi tribun, menciptakan gelombang energi yang luar biasa.

Namun, di tengah gemuruh teriakan gol dan nyanyian dukungan, ada satu sosok yang mendadak mencuri perhatian kamera dan para penonton di tribun VVIP. Ia bukan pemain bintang yang sedang melakukan pemanasan, melainkan seorang pendakwah kondang yang wajahnya sangat akrab bagi masyarakat Indonesia.

Pada unggahan Instagram @samarindaetam, Ustaz Das'ad Latif bersorak sorai penuh semangat di kursi penonton, menyaksikan laga Borneo FC vs PSM Makassar. Kehadirannya bukan sekadar tamu biasa; sang ustaz terlihat benar-benar menikmati setiap detik jalannya pertandingan. Dengan senyum lebar yang menjadi ciri khasnya, ia berkali-kali melayani sapaan dan jabat tangan para penggemar sepak bola yang menyadari keberadaannya di stadion legendaris tersebut.

Menariknya, penampilan Ustaz Das’ad sore itu sangat ikonik. Jika biasanya ia terlihat mengenakan busana muslim formal saat berceramah, kali ini ia tampil dengan gaya yang menggabungkan sisi religius dan kecintaan pada tanah kelahiran.

Ia mengenakan gamis putih bersih, sebuah pakaian longgar khas pria Muslim yang menjuntai hingga mata kaki, namun ada yang spesial pada pakaiannya tersebut. Di bagian dada, tersemat logo PSM Makassar yang mencolok. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa meski sedang berada di markas lawan di Samarinda, hatinya tetap tertambat pada tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, tanah kelahirannya.

Dalam potongan video yang viral di media sosial, suasana Stadion Segiri saat itu memang sedang berada di puncak ketegangan. Papan skor elektronik akhirnya menunjukkan angka 2-1 untuk kemenangan tuan rumah, Borneo FC. Meski tim kesayangannya kalah, Ustaz Das’ad tidak menunjukkan gurat kekecewaan. Sebaliknya, ia terlihat sangat ceria atau sumringah. Beberapa kali ia tampak berdiri, bertepuk tangan, dan menyalami warga yang mendekat.

Respons Warganet

Unggahan tersebut menuai berbagai respons warganet. Beberapa komentar seperti, "Sepakbola menyatukan kita," dan "Tim tamu d larangan hadir kecuali pak ustaz." Mereka juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ustaz Das’ad dalam acara olahraga tersebut.

Misi Dakwah di Kalimantan Timur

Kehadiran Ustaz Das’ad Latif di Samarinda sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian agenda besar yang bertajuk "Safari Dakwah". Safari dakwah sendiri adalah istilah yang merujuk pada perjalanan panjang seorang pendakwah dari satu titik ke titik lain untuk menyebarkan syiar agama Islam.

Berdasarkan jadwal yang beredar, Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan dan Samarinda, menjadi pusat kegiatannya pada awal Januari 2026 ini. Rangkaian kegiatan tersebut dimulai pada Sabtu siang, 3 Januari 2026, di mana beliau menghadiri acara Tabligh Akbar bersama HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di Islamic Center Balikpapan.

Setelah menyelesaikan agenda di Balikpapan pada pukul 12.00 WITA, sang ustaz langsung bertolak menuju Samarinda untuk menikmati pertandingan Borneo FC vs PSM Makassar pada pukul 16.00 WITA sebagai sela-sela istirahat dari jadwal dakwah yang padat.

Namun, energi sang pendakwah seolah tidak ada habisnya. Setelah dari stadion, pada malam harinya pukul 20.00 WITA, ia dijadwalkan mengisi ceramah dalam peringatan Isra Mi'raj di Masjid Aubry, Jalan A. Wahab Syahranie, Samarinda.

Isra Mi'raj adalah sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang memperingati perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit ketujuh untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Keesokan harinya, Minggu, 4 Januari 2026, jadwal beliau semakin padat. Dimulai dengan kegiatan "Jogging Bareng" bersama KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) di Stadion Sempaja pada pukul 06.00 pagi. Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke Desa Prangat, Kabupaten Kutai Kartanegara pada sore hari, dan mengakhiri safarinya di Desa Marang Kayu pada malam hari untuk kembali memperingati Isra Mi'raj.

Sosok Akademisi dengan Kualifikasi Internasional

Dibalik gaya bicaranya yang jenaka dan seringkali menggunakan dialek Bugis yang kental, Ustaz Das’ad Latif bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah perpaduan antara kearifan lokal, kedalaman ilmu agama, dan kekuatan intelektual akademik.

Pria kelahiran Pinrang, 21 Desember 1973 ini memegang kualifikasi pendidikan yang sangat mumpuni di bidang komunikasi. Beliau tercatat sebagai Dosen Tetap dan Peneliti di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Perjalanan akademisnya sangat konsisten; ia menyelesaikan gelar Strata 1 (S1) dengan spesifikasi Public Relations (Hubungan Masyarakat), dilanjutkan dengan gelar Magister (S2) di bidang Ilmu Komunikasi Massa, dan puncaknya meraih gelar Doktoral (S3) di Universitas Malaysia.

Public Relations sendiri adalah bidang ilmu yang mempelajari bagaimana membangun citra positif dan menjalin hubungan baik antara organisasi dengan publiknya. Di kampus, Ustaz Das’ad mengampu mata kuliah yang sangat relevan dengan keahliannya sebagai pendakwah, seperti Metode Penelitian Sosial, Public Speaking (Keterampilan Berbicara di Depan Umum), serta Teknik Lobby, Negosiasi, dan Presentasi.

Karier Moncer dan Karya Literasi

Nama Ustaz Das’ad Latif mulai melambung secara nasional ketika video-video ceramahnya viral di media sosial. Ia juga aktif membimbing jemaah untuk ibadah haji dan umrah, serta menjadi pembina di berbagai majelis taklim, termasuk IWABA (Ikatan Wanita Bank).

Meski jadwalnya sangat padat antara mengajar di Unhas dan berdakwah ke seluruh penjuru negeri, ia tetap menyempatkan diri untuk berkarya lewat tulisan. Sebagai seorang akademisi, ia telah menghasilkan beberapa buku yang menjadi rujukan baik dalam kajian ilmu komunikasi maupun panduan hidup Islami.

Salah satu baktinya yang paling menyentuh adalah pembangunan Masjid Hj. Sitti Mang di tanah kelahirannya, sebagai bentuk rasa cinta dan dedikasi kepada sang ibu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default