8 fakta misteri Jembatan Jabang Bayi di Solo-Jogja Klaten, kisah menyedihkan

Erlita Irmania
0
8 fakta misteri Jembatan Jabang Bayi di Solo-Jogja Klaten, kisah menyedihkan

Sejarah dan Mitos di Balik Nama Jembatan Jabang Bayi

Jembatan Jabang Bayi yang berada di ruas Jalan Solo–Jogja, tepatnya di Desa Banaran, Kecamatan Delanggu, Klaten, memiliki nama yang unik dan penuh makna. Nama tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan terkait dengan peristiwa tragis dari masa lampau yang masih dipercaya dan diceritakan secara turun-temurun hingga kini. Berikut adalah 8 fakta dan cerita di balik nama Jembatan Jabang Bayi tersebut.

Nama Jembatan dan Sungai Jabang Bayi Berasal dari Peristiwa Tragis

Nama Jembatan Jabang Bayi tidak muncul begitu saja, melainkan berkaitan erat dengan sebuah peristiwa menyedihkan di masa lalu. Di bawah jembatan tersebut mengalir sungai yang sejak lama dikenal warga sebagai Sungai Jabang Bayi. Istilah jabang bayi dalam bahasa Jawa merujuk pada bayi yang baru saja dilahirkan. Penamaan itu diyakini berasal dari peristiwa kematian seorang bayi yang terjadi di kawasan tersebut. Cerita ini diwariskan secara lisan oleh warga dan para sesepuh desa. Hingga kini, nama Jabang Bayi tetap dipertahankan sebagai penanda sejarah lokal.

Bayi Meninggal Dunia Saat Persalinan di Tengah Perjalanan

Menurut cerita yang berkembang, peristiwa tragis itu terjadi pada masa kerajaan. Saat itu, ada rombongan perjalanan antara Jogja dan Solo yang melintas kawasan Delanggu. Dalam rombongan tersebut, terdapat seorang perempuan yang sedang hamil tua dan tetap ikut perjalanan. Di tengah perjalanan, perempuan tersebut melahirkan tepat di sekitar lokasi jembatan saat ini. Namun, bayi yang dilahirkan tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi asal-usul nama Jabang Bayi. Kisah tersebut terus hidup dalam ingatan warga hingga sekarang.

Makam Bayi Masih Ada dan Terawat di Tengah Permukiman

Makam bayi yang menjadi cikal bakal penamaan Jabang Bayi masih dapat dijumpai hingga kini. Lokasinya berada di tengah permukiman warga, di sisi timur Jalan Solo–Jogja. Menariknya, di kawasan tersebut hanya terdapat satu makam saja. Makam tersebut dilindungi oleh sebuah cungkup sederhana dan kondisinya terawat. Kebersihan area sekitar makam juga dijaga dengan baik oleh warga setempat. Keberadaan makam ini memperkuat cerita yang selama ini berkembang di masyarakat. Bagi warga, makam tersebut bukan sekadar tempat pemakaman, tetapi juga bagian dari sejarah kampung.

Makam Dipindahkan oleh Keraton Kasunanan Surakarta

Di dekat makam terdapat papan keterangan yang menjelaskan sejarah pemindahan makam bayi tersebut. Berdasarkan tulisan di papan itu, makam dipindahkan dan dimuliakan oleh pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pemindahan dilakukan pada hari Jumat Kliwon tanggal 8 bulan Ruwah tahun 1870 dalam penanggalan Jawa. Pada tanggal tersebut diperkirakan merujuk pada sekitar September 1939. Tulisan di papan tersebut menjadi bukti historis yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Keterangan ini memperkuat keterkaitan antara peristiwa tersebut dengan lingkungan keraton. Hingga kini, papan itu tetap terpasang di dekat makam.

Cerita Turun-temurun dari Warga Setempat

Salah satu warga setempat, Waginah (65), menceritakan asal-usul nama Jabang Bayi berdasarkan penuturan para sesepuh desa. Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi saat zaman kerajaan masih berjaya. Rombongan dari keraton kala itu melakukan perjalanan antara Jogja dan Solo. Dalam rombongan tersebut, terdapat seorang perempuan yang sedang hamil tua dan tetap ikut perjalanan meski sudah diperingatkan. Waginah menyampaikan cerita tersebut dalam bahasa Jawa. “Ceritanya pada zaman kerajaan dulu, ada raja dalam perjalanan antara Jogja dan Solo. Lha terus itu ada selir, ratu atau siapa yang kondisinya hamil tua, ikut rombongan. Sebelumnya sudah diingatkan untuk tidak ikut,” kata Waginah. Cerita ini masih dipercaya dan diceritakan hingga kini.

Makam Nyai Roro Welas Pernah Dipindahkan Lokasinya

Waginah juga menjelaskan bahwa makam bayi tersebut diketahui bernama Nyai Roro Welas. Awalnya, makam berada di dekat lokasi persalinan di sekitar jembatan. Seiring berjalannya waktu, makam tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi seberang jalan seperti yang terlihat saat ini. Pemindahan makam itu sesuai dengan keterangan yang tertulis pada papan di dekat makam. Menurut Waginah, di lokasi sekarang hanya ada satu makam tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya selama ini ikut merawat makam karena rumahnya berada tidak jauh dari sana. Perawatan dilakukan secara sederhana namun rutin. Hal ini menunjukkan kepedulian warga terhadap situs sejarah lokal.

Makam Jabang Bayi Kerap Didatangi Peziarah

Meski berada di tengah permukiman, makam Jabang Bayi kerap didatangi peziarah dari berbagai daerah. Waginah menyebutkan bahwa peziarah tidak hanya berasal dari Klaten. Beberapa di antaranya datang dari Yogyakarta, Semarang, hingga Surabaya. Ia sendiri tidak mengetahui secara pasti dari mana para peziarah mengetahui keberadaan makam tersebut. Sebagian peziarah juga ikut membantu perawatan makam. Keberadaan peziarah ini menunjukkan bahwa kisah Jabang Bayi dikenal cukup luas. Makam tersebut menjadi salah satu titik yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual. Hingga kini, aktivitas ziarah masih terus berlangsung.

Nama Jabang Bayi Sudah Dikenal Sejak Lama

Warga lain, Suranto (52), menegaskan bahwa nama Jabang Bayi sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat setempat. Ia menyebutkan bahwa alur sungai di kawasan tersebut memang sejak dulu disebut Sungai Jabang Bayi. Cerita tentang bayi yang meninggal di dekat jembatan sudah sering ia dengar sejak kecil. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas bayi tersebut. “Iya, kalau ceritanya dulu ada bayi meninggal di sana [dekat jembatan]. Kalau bayinya siapa saya tidak tahu,” jelas Suranto. Kesaksian ini menunjukkan bahwa cerita tersebut telah lama menjadi bagian dari memori kolektif warga. Hingga kini, nama Jabang Bayi tetap melekat dan digunakan.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default